Jumat, 21 Agustus 2026, siswa kelas XI B SMAN 1 Wonosari mendapatkan kesempatan istimewa untuk mengikuti sharing session perjalanan study dan karier bersama Syifa Dina M., S.Gz., alumni Ekamas 56. Kegiatan yang berlangsung saat pembelajaran Biologi yang diampu oleh Ibu Agnita Nunung Nugroho Wulanadji, S.Si., M.Sc., ini menjadi ruang bagi siswa untuk mengenal lebih dekat perjalanan pendidikan, dunia kerja, hingga berbagai tantangan yang dihadapi setelah lulus dari bangku SMA.
Syifa Dina merupakan alumni SMAN 1 Wonosari yang lulus pada tahun 2020. Setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah atas, Syifa melanjutkan pendidikannya di Universitas Gadjah Mada dan berhasil memperoleh gelar Sarjana Gizi pada tahun 2024. Selepas kuliah, Syifa mencoba membangun karier di GMEDCC, sebuah perusahaan asing asal Australia yang bergerak di bidang Health Tech Company. Menariknya, pekerjaan tersebut dijalani secara remote sehingga memberikan pengalaman baru bagi Syifa dalam beradaptasi dengan lingkungan kerja internasional.

Syifa Dina, alumni Ekamas 56 saat berbagi pengalamannya.
Perjalanan Syifa tidak berhenti di dunia kerja. Pada tahun 2025, ia mencoba peruntungan melalui program LPDP Scholarship Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil setelah Syifa dinyatakan diterima untuk melanjutkan pendidikan magister di University College London (UCL), Inggris, dengan mengambil program Clinical and Public Health Nutrition. Syifa dijadwalkan berangkat ke London pada pertengahan September 2026. Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa perjalanan pendidikan dan karier tidak selalu berjalan lurus, tetapi dapat terus berkembang melalui keberanian mencoba dan kemauan untuk belajar.
Dalam sesi berbagi, Syifa juga menyampaikan sisi lain dari perjalanan study dan karier yang tidak selalu terlihat dari pencapaian. Ia bercerita mengenai berbagai tantangan yang pernah dihadapi, mulai dari persoalan kesehatan mental dan burnout, kesulitan finansial, perasaan salah jurusan, hingga krisis eksistensial. Para siswa kemudian diajak untuk merefleksikan perjalanan mereka sendiri dengan menuliskan berbagai hambatan yang sedang dihadapi selama menjalani pendidikan serta bentuk resiliensi atau upaya yang dilakukan untuk menghadapinya. Syifa juga membagikan berbagai informasi dan rekomendasi beasiswa yang dapat menjadi referensi siswa untuk melanjutkan pendidikan di masa mendatang.

Sesi refleksi dan resiliensi dari para murid kelas XI B.
Tidak hanya membahas pendidikan dan karier, Syifa turut mengajak siswa untuk lebih peduli terhadap kesehatan mental serta memahami cara menghadapi berbagai tekanan secara sehat. Ia mendorong para siswa untuk terus mengisi masa sekolah dengan kegiatan positif, seperti mengikuti kompetisi, organisasi, kepanitiaan, maupun kegiatan pengembangan diri lainnya. Menurutnya, pengalaman-pengalaman tersebut dapat menjadi bekal penting untuk mengenali potensi diri sekaligus mempersiapkan langkah menuju dunia perkuliahan dan karier.
Presentasi dan diskusi ditutup dengan dua kutipan dari Leila S. Chudori dalam Laut Bercerita: “Ketidaktahuan dan ketidakpastian kadang-kadang jauh lebih membunuh daripada pembunuhan” serta “Kita harus selalu mencoba berbuat sesuatu, menyalakan sesuatu, sekecil apa pun dalam kegelapan di negeri ini.” Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para siswa bahwa masa depan memang penuh ketidakpastian, tetapi selalu ada pilihan untuk terus mencoba, bertumbuh, dan menyalakan harapan. Tidak harus langsung tahu akan menjadi apa yang terpenting adalah berani melangkah, belajar dari setiap hambatan, menjaga kesehatan diri, dan terus melakukan hal-hal positif. Sebab, seperti perjalanan Syifa, langkah kecil hari ini bisa menjadi awal menuju tempat yang jauh lebih besar di masa depan. (*)
Penulis: Bayun Dwi Gantari
EN
ID
0 Komentar
Untuk mengirimkan komentar silakan login terlebih dahulu!